<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/6403473953729123392?origin\x3dhttp://arvidyanindita.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g? targetBlogID=3054107564476057249&blogName=url.blogspot.com&publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&navbarType=BLACK&layoutType=CLASSI C&homepageUrl=http%3A%2F%2Furl.blogspot.com%2F&searchRoot=http%3A%2F%2Furl.blogspot.com%2Fsearch" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
arvidyanindita.blogspot.com
HELLO


thanks for visiting my blog



Universitas Pilihan
Friday, November 27, 2009

Dari kecil, cita-cita saya selalu berubah-ubah. Waktu saya TK, saya ingin menjadi kasir karena saya berpikir kasir itu uangnya banyak -_- lalu karena teman-teman saya kebanyakan ingin menjadi dokter, maka sayapun juga ikut-ikutan ingin menjadi dokter. Lalu karena saya senang sekali melukis, saya ingin menjadi pelukis. Itu semua cita-cita saya sewaktu kecil.

Lalu ketika SMP, saya mulai senang menggambar dengan rapi. Dengan rapi yang saya maksud adalah menggambar yang banyak dengan garis-garis, teratur dan rapi. Saya suka membuat denah rumah dan membuat model rumah dengan komputer. Saya juga orangnya cukup teliti dan bisa dibilang perfeksionis untuk beberapa hal salah satunya menggambar. Apalagi waktu SMP nilai matematika saya terbilang sangat bagus, hal itu membuat saya ingin menjadi arsitek. Saya sudah bilang pada kedua orang tua saya bahwa saya ingin menjadi arsitek.

Ketika masuk SMA, ada psikotes untuk menjadi acuan dalam menentukan jurusan IPA atau IPS. Hasil tes itu mengatakan lebih condong ke IPA. Disitu juga diberitahu jurusan kuliah yang cocok untuk saya. Untuk jurusan IPA saya bisa masuk di Teknik (Industri, Arsitektur, Sipil), MIPA (Matematika, Farmasi) dan Kedokteran. Sedangkan untuk jurusan IPS, saya cocok di Akuntansi dan FISIP (Administrasi Niaga). Semua hasil jurusan itu sejenis, memerlukan ketelitian. Saya senang ternyata saya cocok di jurusan arsitektur.

Namun setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa saya tidak cukup kreatif. Jika saya disuruh membuat suatu gambar, saya bisa menggambarnya dengan cukup baik, namun jika saya disuruh menggambar bebas, saya kesulitan menentukan apa yang akan saya gambar. Saya sulit melakukan sesuatu yang tanpa tujuan. Saya sulit untuk mencari ide dan mengeksplorasinya. Sedangkan arsitek diharuskan untuk berpikir unik dan kreatif.

Maka mulai dari situ keinginan saya untuk menjadi arsitek mulai mundur hingga saya mantap tidak ingin menjadi arsitek. Saya ingin menjadi arsitek hanya karena saya suka kerapian dalam menggambar dan menghitung luas bangunan, tetapi saya sulit untuk menentukan model bangunan yang akan dibuat. Mungkin jika seseorang meminta saya membuat desain dengan jelas, ia menyuruh saya secara spesifik membuat yang ia mau, saya bisa. Tetapi jika ia hanya bilang bahwa ia menginginkan rumah dengan model minimalis, saya kurang bisa. Saya juga baru berpikir, bila saya ingin menjadi arsitek saya harus mempelajari struktur-struktur tanah, bebatuan dan semacamnya. Saya tidak suka itu.

Setelah menyadari semua itu, saya tidak berminat menjadi arsitek dan tidak punya cita-cita. Padahal saya sudah SMA dan sebentar lagi kuliah. Sempat saya berpikir untuk mengambil jurusan akuntansi. Tetapi setelah mendengar cerita-cerita orang tentang akuntansi, saya jadi takut. Akuntansi memerlukan ketelitian yang sangat tinggi. Saya takut saya melakukan sedikit kesalahan saja bisa fatal akibatnya. Saya pun membatalkan niat untuk mencari informasi lebih lanju tentang akuntansi.

Setelah SMA juga saya lebih suka bermain-main dan bersantai-santai dibanding harus belajar serius. Hal itu membuat saya tidak ingin masuk jurusan kuliah yang berat dan banyak berpikir. Contohnya farmasi, saya kurang suka kimia. Apalagi kedokteran, uuh saya tidak bisa banget deh. Saya orangnya tidak tahan terhadap darah dan hal-hal seperti itulah. Saya paling tidak mau deh jadi dokter. Takut salah diagnosis juga nantinya malah malpraktek lagi. Saya bukan tipe orang yang berani mengambil resiko yang besar.

Beberapa bulan kemudian saya tiba-tiba berpikir untuk kuliah di jurusan psikologi. Saya suka membaca sifat orang. Apalagi bisa membaca karakter seseorang dari gambar dan tulisan tangannya, sepertinya menyenangkan sekali. Apalagi itu tidak perlu berpikir terlalu banyak.

Sekarang saya sudah yakin ingin kuliah di jurusan psikologi. Saya juga ingin bekerja kantoran. Kedua hal itu saya gabungkan maka saya memilih untuk kerja di bagian rekruitmen.

Orang tua saya mengajukan beberapa pilihan universitas yang jurusan psikologinya bagus. Di antaranya adalah UI, Unpad, Atmajaya dan UGM. Tapi bagi saya UGM terlalu jauh, jadi saya kurang berminat. Saya ingin sekali mendapatkan UI. Tapi beberapa hari yang lalu saya baru mengetahui bahwa psikologi UI adalah jurusan IPS, yang berarti tes masuknya juga IPS, sedangkan sekarang saya SMA di jurusan IPA. Malas sekali kalau nanti kelas 3 harus mempersiapkan Ujian Nasional dan mengambil tambahan IPS. Pusing! Semoga saja putusan MA untuk meniadakan UN benar-benar terlaksana pada tahun saya nanti.

Kalau di Unpad, psikologinya jurusan IPA, kekurangannya hanya sedikit jauh dari rumah bila nantinya kuliah disana. Tapi tidak apa-apalah, sekarang kan ke Bandung hanya 2 jam dari Jakarta. Jadi dua pilihan utama saya adalah UI dan Unpad.

Labels:

written @11:51 PM