Pada saat itu saya bersekolah di SMP Al-Azhar Pusat. Saya sudah sekolah disana sejak saya masih TK. Ketika kelas 3 SMP, saya harus menentukan mau melanjutkan sekolah di SMA mana. Saya pun mendaftar di SMA Al-Azhar 01 (Alpus) dan SMA Labschool Kebayoran (Labsky). Saya mendaftar di SMA Alpus karena sekolah itu merupakan salah satu sekolah unggulan di Jakarta dan teman-teman saya banyak yang ingin meneruskan sekolah disana. Tapi saya lebih menginginkan sekolah di Labsky. Saya meliat kakak saya yang sudah lebih dulu bersekolah disana , sepertinya menyenangkan. Banyak sekali kegiatan non-akademik yang tidak ada di sekolah lain. Apalagi bila dihitung-hitung saya sudah 11 tahun sekolah di Alpus dan saya ingin mencari suasana baru.
Beberapa hari setelah pendaftaran SMA Al-Azhar 01, saya dinyatakan lulus tanpa tes. Masalahnya, batas waktu pembayaran Alpus sebelum tes Labsky dilaksanakan. Saya dan keluarga sangat bingung. Kalau Alpus dilepas, saya takut tidak diterima di Labsky. Tapi jika saya membayar Alpus, itu berarti orang tua saya harus membayar lebih. Terlebih lagi teman-teman dan guru-guru saya menyuruh saya masuk Alpus, mereka bilang saya menyia-nyiakan kesempatan karena banyak yang ingin sekali masuk Alpus tapi tidak diterima, sedangkan saya bisa diterima tanpa tes. Saya tambah bingung. Tapi saya ingin sekali masuk labsky.
Setelah perundingan yang cukup panjang akhirnya saya sudah mantap untuk masuk labsky dan orang tua saya memutuskan untuk membayar uang masuk Alpus tetapi tidak secara penuh. Pada saat saya sedang ujian praktik, saya mendapat kabar dari orang tua saya bahwa saya lulus tes masuk Labsky. Betapa senangnya saya pada saat itu.
Hari-hari pertama sekolah, rasanya saya ingin kembali ke Alpus! Itu karena saya belum begitu kenal dengan teman-teman. Dari Alpus yang masuk ke Labsky hanya 4 orang. Apalagi itu baru pertama kalinya saya merasakan menjadi ’anak baru’. Sebagian besar dari mereka telah saling mengenal karena mereka berasal dari SMP Labsky. Sedikit menyesal dulu saya bersikeras ingin masuk Labsky. Ditambah lagi nama saya sudah terdaftar di salah satu kelas di Alpus, hal itu tambah membuat saya ingin kembali kesana. Tapi jika saya pikirkan kembali, sayang sekali uang yang sudah dibayarkan di Labsky secara penuh melayang begitu saja. Maka yang bisa saya lakukan hanya bersabar dan berpikir bahwa itu baru permulaan.
Ketika MOS di Labsky, dibagi beberapa kelompok yang membantu kita untuk bersosialisasi dengan teman baru. Saya pun mulai berkenalan dengan teman-teman sekelompok dan kelompok-kelompok lain. Selama MOS berlangsung, kami juga didampingi kakak-kakak OSIS. Merekalah yang membuat MOS lebih berwarna. Bila kegiatan sedang berlangsung, kadang mereka suka iseng memanggil-manggil nama kami dengan panggilan yang konyol. Tapi menurut saya, kalau tidak ada seperti itu justru kegiatan MOS akan membosankan. Lalu ketika makan, di Labsky ada cara makan yang disebut dengan ’makan komando’, yaitu kita harus menghabiskan bekal yang kita bawa dalam beberapa hitungan saja. Hal itu melatih kita untuk bergerak cepat dalam situasi tertentu.
Pada saat MOS kita juga diajari cara baris-berbaris (PBB). Saat PBB berlangsung, kita harus serius mendengarkan petunjuk dari kakak-kakak OSIS agar tidak salah, karena kalau salah, kita akan diberi hukuman. Tapi ternyata tidak mudah untuk berkonsentrasi karena beberapa kakak OSIS mengganggu kita dengan lelucon-lelucon yang sangat lucu. Tentunya kita tidak boleh tertawa. Ditambah dengan teriknya sinar matahari di lapangan, membuat kita ingin cepat-cepat selesai.
Setelah MOS selesai, ada pembagian kelas. Teman-teman MOS saya masuk di satu kelas yang sama, pada saat itu saya iri. Saya masuk di kelas XC. Untungnya, di kelas itu ada teman SD saya, jadi setidaknya sudah ada orang yang saya kenal. Ternyata anak-anaknya disana ramah-ramah sekali. Mereka tidak segan untuk menghampiri kita duluan mengajak berkenalan.
Di kelas, guru juga sering mengadakan tugas kelompok yang membuat kita bisa lebih akrab dengan teman-teman sekelas. Setelah saya berada di kelas itu selama beberapa lama, saya menyadari bahwa XC adalah salah satu kelas yang terbaik menurut saya. Beruntungnya saya ada di kelas itu. Anak-anaknya juga sangat kompak.
Beberapa bulan setelah masuk, ada kegiatan yang dinamakan Trip Observasi (TO). Pada kegiatan itu, anak-anak kelas 10 akan menginap di sebuah desa selama 5 hari untuk melakukan penilitian tertentu. Lagi-lagi dalam kegiatan itu dibagi kelompok. Dan saya mendapatkan kelompok yang teman-temannya baik dan mudah diajak bekerjasama.
Sebelum TO, ada kegiatan yang dinamakan pra-TO. Pada kegiatan itu, kita harus membuat nametag dan tongkat – yang susahnya minta ampun – untuk dipakai pada saat TO. Pokoknya semua yang diperlukan pada saat TO kita siapkan pada saat pra-TO.
Waktu pra-TO menjadi kenangan tersendiri bagi saya. Bagaimana stressnya mengerjakan nametag hingga larut malam, belum lagi potongan-potongan dari nametag tersebut yang tercecer karena lokasi pengerjaannya berpindah-pindah. Mengerjakan nametag dan tongkat itu tidak cukup hanya sehari. Dibutuhkan kerjasama yang baik antaranggota. Ada satu kelompok yang nametagnya sudah jadi dengan cepat, namun nametagnya hilang. Saya berpikir bagaimana rasa kesalnya mereka, sudah membuat dengan susah payah, lalu hilang begitu saja. Pada akhir pra-TO juga dipilih ketua angkatan yang gunanya untuk menyatukan angkatan dan memudahkan untuk mengoordinir angkatan bila ada suatu hal.
TO angkatan saya dilaksanakan di desa Pasir Muncang di Purwakarta. Disana kita tinggal di rumah-rumah penduduk. Jadi nanti akan ada orang tua asuh yang merupakan pemilik rumah yang kita tempati selama disana. Tapi kita harus memasak sendiri makanan kita, bukan orang tua asuh yang akan memasak untuk kita. Kehadiran kita disana jangan sampain merepotkan mereka. Kita juga membantu orang tua asuh bekerja. Misalnya orang tua asuh kita adalah seorang petani, maka kita juga membantunya bekerja di sawah.
Tapi bukan itu inti dari kegiatan Trip Observasi. Sesuai dengan nama kegitannnya, disana kita melakukan observasi sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Lalu dalam TO ada juga kegiatan yang dinamakan Lintas Budaya, yaitu kita memresentasikan tentang suatu daerah, kebudayaannya, adat istiadatnya dan lain-lain dengan memakai baju daerah tersebut. Para penduduk juga bisa ikut menonton dengan bebas. Lalu juga ada kegiatan bakti sosial yang melibatkan murid, orang tua murid, guru-guru serta penduduk setempat.
Puncak kegiatan ini adalah di hari ke empat. Pada hari itu ada kegiatan yang dinamakan Penjelajahan. Dalam kegiatan itu, kita akan berjalan menyusuri hutan, sungai, air terjun, kebun teh dan lain-lain secara berkelompok sesuai dengan kelompok TO kita. Jarak yang ditempuh sekitar 20 km kita lalui dari pagi hingga sore. Memang sangat melelahkan, tapi itu sangat menyenangkan. Lebih banyak menyenangkannya daripada capeknya. Rugi sekali bila TO tapi tidak ikut penjelajahan. Kapan lagi kita melakukan kegiatan seperti itu?
Setelah 5 hari berada disana, akhirnya kami kembali ke Jakarta. Senang sekali rasanya bisa kembali ke rumah dan bersantai-santai. Tapi bukan berarti disana tidak menyenangkan loh. Ya, sudah beberapa kegiatan kita lalui di Labsky. Sampai beberapa bulan kemudian, kami bisa bersantai karena tidak ada kegiatan-kegiatan seperti itu lagi.
Sampai pada suatu bulan, ada kegiatan bernama Lapinsi yaitu Latihan Kepemimpinan Siswa. Acara itu tidak wajib diikuti seluruh murid kelas sepuluh. Kegiatan itu ditujukan kepada mereka yang ingin menjadi pengurus OSIS. Saya juga mengikuti kegiatan itu. Selama beberapa hari di Lapinsi, kami diajari berbagai macam materi tentang organisasi untuk bekal bila nantinya terpilih menjadi pengurus OSIS.
Tapi yang ikut kegiatan Lapinsi tidak langsung menjadi pengurus OSIS, masih ada tahap yang dinamakan TPO atau Tes Potensi Organisasi. Dalam TPO, ada 3 macam tes. Yang pertama adalah tes fisik atau olah raga. Yang kedua adalah tes kerohanian dan yang terakhir adalah tes presentasi makalah. Saya ragu untuk ikut TPO. Malas sekali rasanya harus membuat makalah hanya dalam waktu 1 minggu. Namun teman-teman saya mendukung saya untuk ikut TPO. Untungnya sewaktu SMP saya disuruh membuat karya tulis jadi saya tidak terlalu sulit mengerjakan makalah tersebut karena sudah tahu cara membuat makalah yang baik. Akhirnya pun saya mengikuti TPO. Hasilnya baru akan diumumkan setelah liburan sekolah. Lama sekali.
Pada bulan Juni, ketika sekolah lain sudah libur, sekolah kami belum. Ada kegiatan bernama Bintama (Bina Mental apalah namanya saya lupa) yang mengambil lokasi di Batu Jajar dan Situ Lembang, Bandung. Disana kita dilatih untuk menjadi disiplin dan mandiri oleh pelatih-pelatih Kopassus. Menurut saya kegiatannya menyenangkan, tetapi kadang merepotkan dan bikin kesal. Contohnya, dengan udara disana yang sangat dingin, kita disuruh masuk ke dalam air (yang juga sangat dingin) berkali-kali. Setelah itu esok harinya kita memakai baju yang basah itu. Betapa dingin rasanya. Makanpun juga makan komando, jadi kita harus cepat-cepat menghabiskan makanannya tanpa suara. Padahal wadah makannya terbuat dari besi (atau alumunium?) yang jika bertemu dengan sendok suaranya berisik. Tapi saya berpikir positif, itu semua melatih kita untuk selalu bergerak cepat di saat-saat yang memang mengharuskan kita untuk bergerak cepat. Di acara itu juga ada api unggun dan caraka malam, yaitu seperti jurit malam.
Selesai Bintama, seluruh murid kelas X merasa sangat lega karena sudah melewati semua kegiatan-kegiatan wajib Labsky. Ketika liburan, hasil TPO sudah keluar. Ternyata saya dinyatakan lulus menjadi calon pengurus OSIS. Pada tanggal 17 Agustus 2009, para calon pengurus OSIS dilantik menjadi pengurus OSIS. Pada waktu subuh hingga pagi hari, kami semua bersama-sama berlari dari kalibata menuju Labsky. Capek yang terasa tidak sebanding dengan rasa senang kami. Begitu sampai sekolah rasanya senaaaang sekali telah berhasil lari sejauh 17 kilometer. Saya tidak menyangka saya akan kuat berlari sejauh itu. Setelah beristirahat sejenak, kamipun dilantik sebagai pengurus OSIS.
Sekolah di Labsky memberi saya banyak pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah-sekolah lain. Saya sangat senang dan tidak menyesal bersekolah disini.
Labels: Bintama, Labschool Kebayoran, Labsky, Trip Observasi