Papaku adalah salah satu lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun ’87 jurusan Mekanisasi Pertanian. Pada saat itu beliau belum memiliki cita-cita ingin menjadi apa. Setelah lulus, ia baru memiliki cita-cita, yaitu ingin bekerja di IBM.
Ia melamar pekerjaan ke 40 perusahaan termasuk IBM dan ia diterima di 8 perusahaan. Tetapi ternyata IBM tidak menerima pegawai baru. Maka dari 8 perusahaan tersebut, ia memilih United Tractors (UT) yang bekerja mengenai alat-alat berat seperti traktror dan buldozer. Selama setahun ia beserta pegawai baru lainnya menjadi management trainee. Mereka diajari berbagai macam hal di perusahaan itu. Papaku ditempatkan di bagian sparepart division (suku cadang) mengurusi inventori. Ketika sedang menjalani itu, papaku mendapat berita bahwa IBM membuka lowongan pekerjaan dan ia melamar disana.
Beberapa bulan kemudian ia dinyatakan lulus dan diterima di IBM. Maka ia pun pindah dari UT ke IBM tahun 1988. Jadi ia bekerja di UT hanya selama satu tahun. Di IBM juga ada management trainee seperti di UT selama satu tahun di bagian sales and marketing. Setelah setahun itu ia ditempatkan di sales & marketing di industri manufacture sebagai engineer (menangani perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik elektronik) selama dua tahun. Tahun 1991 ia ditawari sebagai marketing di sales engineer. Ia pun menerimanya dan bekerja hingga tahun 1992. Setelah itu, pada tahun 1992-1994 ia menjadi marketing untuk instansi pemerintah yang menangani departemen, BUMN, dan lain-lain.
Pada tahun 1994 IBM seluruh dunia guncang dan mengalami masalah besar. Terjadi PHK ribuan pegawai dan papaku pun memilih untuk keluar. Maka ia pindah ke Bank Bali. Ia bekerja di bagian retail banking menangani micro marketing. Pekerjaannya mempromosikan produk-produk retail banking dengan membuat acara-acara, pameran, iklan, presentasi, lomba, pendekatan ke perusahaan, sekolah, dan masyarakat, dan lain-lain. Pokoknya ia mempromosikan produk tersebut.
Pada tahun 1996 ia ditawari kembali bekerja di IBM. Pada saat itu IBM sudah kembali normal. Maka ia pun menerimanya. Ia menjadi marketing industri telekomunikasi. Pada tahun 1999 hingga 2002 ia ditugaskan masuk ke organisasi IBM regional Asia Tenggara menangani operasi regional untuk industri telekomunikasi IBM Asia Tenggara + India. Pekerjaannya mengoordinasi IBM bagian telekomunikasi di tiap-tiap negara tersebut agar bekerja dengan baik untuk bisa dijual. Tahun 2002 ia diminta kembali ke IBM Indonesia menangani product management.
Pada tahun 2004, papaku memilih untuk pensiun dini. Saat itu umur papaku baru 39 tahun. Lalu apa yang papa kerjakan setelah pensiun dini? Ketika papa masih bekerja di Bank Bali, akhir tahun 1995 papa mulai set up membangun usaha pribadi di bidang industri retail distribusi. Di perjalanan retail tersebut dibangun, ia mendapatkan pengetahuan dan pengalaman sehingga ia bisa melakukan konsultasi. Ia menjadi konsultan untuk orang-orang yang ingin memulai usaha pribadi. Yang ia lakukan adalah pembimbingan dan pendampingan kepada orang-orang atau keluarga-keluarga yang ingin memulai usaha pribadi mereka.
Usaha itu berkembang hingga release IBM papa langsung meneruskan dan menekuni bidang konsultan usaha pribadi tersebut. Ia memberikan bimbingan kepada mereka. Di perjalanannya, papa bisa menjadi pembicara motivsai, seringkali ia diundang menjadi pembicara di berbagai macam seminar.
Ia juga masuk ke dunia industri kesehatan. Selanjutnya papa melakukan pembimbingan dan pendampingan untuk orang-orang khusus di industri kesehatan. Ia memilih bidang kesehatan karena ternyata di dunia ada 6 perkembangan tren yang sangat luar biasa dan tidak akan pernah mati, yaitu industri kesehatan, teknologi telekomunikasi, keuangan, retail, makanan, dan pendidikan. Papa melakukan pembimbingan dan pendampingan untuk orang-orang di usaha mikro bidang kesehatan dengan menggunakan metode personal franchise. Hingga kini, itulah pekerjaan dia.
Keputusan papa untuk berhenti kerja memang tepat, karena waktu ia untuk bersama keluarga menjadi lebih banyak. Ia bisa memantau kegiatan anak-anaknya, sehingga kita bisa memiliki waktu yang lebih untuk melakukan sharing. Papa juga sering bercerita tentang dunia pekerjaan, mengajarkan kami bagaimana membangun hubungan yang baik dengan orang, membicarakan masa depan kami yang membuat mata kami lebih terbuka pada lingkungan sekitar. Papa bilang lebih cepat diajari lebih baik untuk ke depannya. Dulu papa tidak mendapatkan hal-hal seperti itu sewaktu muda. Ia merasa ’terlambat’ mempelajarinya sehingga mengalami kesulitan beradaptasi dengan dunia pekerjaan. Maka ia tidak ingin kami mengalami hal seperti itu. Ia sering memberi kami buku-buku referensi yang bagus untuk dipelajari. Papa juga memilki banyak sekali teman dari berbagai macam kalangan karena pekerjaan-pekerjaannya itu.
Labels: IBM, konsultan kesehatan, personal franchise