
Labels: peluang matematika

Labels: peluang matematika
Anda pasti sudah tahu situs pertemanan bernama Facebook bukan? Di dalam Facebook, anda tidak hanya dapat berkomunikasi dengan teman-teman anda, tetapi juga bisa bermain, bahkan berbisnis. Banyak sekali aplikasi-aplikasi dan permainan menarik di Facebook. Saya termasuk orang yang suka sekali bermain. Sebagian besar waktu online saya adalah untuk bermain. Salah satu permainan favorit saya di Facebook adalah Pet Society. Awalnya saya tidak tertarik, tetapi ketika melihat adik saya asyik bermain, saya ikutan mencobanya dan akhirnya malah ketagihan.
Di dalam Pet Society, kita memelihara sebuah binatang yang bentuk dan warnanya bisa kita pilih sesuai kesukaan kita. Disitu tertera tingkat kesehatannya, kebahagiaannya dan kebersihannya. Untuk meningkatkan kesehatannya, kita harus memberinya makan. Bila ia sehat, gerakan ia akan semakin cepat. Begitu pula sebaliknya.
Untuk meningkatkan kebersihannya, ia harus dimandikan dengan memakai sabun yang telah tersedia atau kita juga bisa membeli bathtub. Bila kita klik bathtubnya, ia akan masuk ke dalam bathtub dan mandi sendiri.
Sedangkan untuk meningkatkan kebahagiannya, kita bisa mengajak ia bermain bola, Frisbee dan lompat tali, atau mengunjungi rumah teman. Dengan mengunjungi rumah teman, kita juga mendapatkan koin yang bisa kita gunakan untuk membeli barang-barang seperti makanan, perabotan rumah, pakaian, dan lain-lain. Dengan mengunjungi rumah teman, kita juga akan mendapatkan poin yang disebut Paw Points. Setiap kita mencapai Paw Points tertentu, kita akan naik ke level selanjutnya. Di setiap level, kita akan mendapatkan hadiah yang berbeda-beda.
Untuk para pemula, disana juga tersedia instruksi-instruksi dasar yang otomatis akan muncul begitu anda membuka aplikasi Pet Society. Anda bisa belajar dari situ.
Setiap pet memiliki rumahnya masing-masing. Setiap rumah terdiri dari 10 ruangan. Tetapi kita tidak langsung mendapat 10 ruangan. Kita mendapat 1 ruangan bila mencapai level-level tertentu. Level tertinggi di Pet Society adalah level 47. Rumah yang kita miliki juga bisa diisi dengan perabotan rumah yang unik-unik. Saat ini saya sudah mencapai level 30 dan telah memiliki 7 ruangan.
Selain berbelanja dan mengunjungi rumah teman, kita juga bisa menanam tanaman, memancing dan berlomba lari. Tentunya jika menang kita mendapatkan koin dan Paw Points juga.
Di Pet Society ada banyak toko-toko seperti toko perabotan, pakaian, elektronik, makanan, dan lain-lain. Setiap hari senin, akan ada barang-barang baru di setiap toko. Tapi terkadang ada beberapa toko yang tidak ada barang barunya, seperti elektronik dan perkebunan. Barang-barang tersebut biasanya bertema. Bila ada perayaan tertentu, biasanya barang-barangnya berhubungan dengan perayaan itu. Misalnya natal, barang-barang yang dijual berhubungan dengan natal. Pernah juga hari kemerdekaan Indonesia, barang-barang yang dijual adalah barang-barang khas Indonesia seperti baju penari Bali, Batik, Cendol, Kolak, dan lain-lain. Setiap hari juga kita mendapatkan lotere harian yang berhadiah koin.
Teman-teman yang aktif bermain juga dikelompoki. Bila kita mengunjungi rumah teman-teman yang aktif, koin yang kita dapatkan lebih banyak daripada kita mengunjungi yang tidak aktif. Saat mengunjungi teman, kita bisa mengajaknya berdansa, memeluknya, menonton tv bersana, mendengarkan musik, dan lain-lain.
Kita juga bisa melihat-lihat isi rumahnya dia. Kitapun dapat memberi hadiah untuk teman kita. Misalnya kita membeli sebuah kursi, lalu kursi itu kita berikan kepada teman kita. Selain memberi barang, kita juga bisa menulis surat dan mengirim stiker untuk teman kita.
Selain bisa membeli makanan, kita juga bisa memasak makanan-makanan yang tidak dijual di toko. Anda akan diberi oven secara gratis kemudian anda hanya perlu mengklik menu yang ingin anda buat. Makanan tersebut bisa anda jual untuk mendapat tambahan koin.
Di bawah ini ada beberapa foto-foto pet saya


Labels: game facebook, pet society, playfish
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 (yang sekarang diperingati sebagai Hari Kartini) di Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).
Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Di tengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.
Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25 di kota Rembang, Jawa Tengah, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Saya sangat salut pada keberanian beliau untuk membela kaum wanita di saat orang lain malah merendahkan kaum wanita. Apalagi setelah sukses ia tetap bersikap rendah hati dan santun sama seperti sebelumnya. Berkat ia sekarang derajat kaum wanita setara dengan kaum pria. Wanita tidak lagi dengan mudah disuruh-suruh pria. Mereka sudah dapat berpikir maju. Sekarang wanita tidak lagi selalu di dapur, sekarang banyak sekali wanit karier. Coba bayangkan jika dulu tidak ada Kartini, bagaimana nasib wanita saat ini? Belom tentu ada orang seberani dia membela kaum wanita. Bisa saja saat ini keadaan wanita masih sama seperti dulu, selalu diinjak-injak dan tidak diberi kebebasan. Semoga Kartini lebih bisa menjadi inspirasi bagi wanita-wanita zaman sekarang.
Labels: Emansipasi Wanita, Pahlawan Wanita, R.A. Kartini
Dari kecil, cita-cita saya selalu berubah-ubah. Waktu saya TK, saya ingin menjadi kasir karena saya berpikir kasir itu uangnya banyak -_- lalu karena teman-teman saya kebanyakan ingin menjadi dokter, maka sayapun juga ikut-ikutan ingin menjadi dokter. Lalu karena saya senang sekali melukis, saya ingin menjadi pelukis. Itu semua cita-cita saya sewaktu kecil.
Lalu ketika SMP, saya mulai senang menggambar dengan rapi. Dengan rapi yang saya maksud adalah menggambar yang banyak dengan garis-garis, teratur dan rapi. Saya suka membuat denah rumah dan membuat model rumah dengan komputer. Saya juga orangnya cukup teliti dan bisa dibilang perfeksionis untuk beberapa hal salah satunya menggambar. Apalagi waktu SMP nilai matematika saya terbilang sangat bagus, hal itu membuat saya ingin menjadi arsitek. Saya sudah bilang pada kedua orang tua saya bahwa saya ingin menjadi arsitek.
Ketika masuk SMA, ada psikotes untuk menjadi acuan dalam menentukan jurusan IPA atau IPS. Hasil tes itu mengatakan lebih condong ke IPA. Disitu juga diberitahu jurusan kuliah yang cocok untuk saya. Untuk jurusan IPA saya bisa masuk di Teknik (Industri, Arsitektur, Sipil), MIPA (Matematika, Farmasi) dan Kedokteran. Sedangkan untuk jurusan IPS, saya cocok di Akuntansi dan FISIP (Administrasi Niaga). Semua hasil jurusan itu sejenis, memerlukan ketelitian. Saya senang ternyata saya cocok di jurusan arsitektur.
Namun setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa saya tidak cukup kreatif. Jika saya disuruh membuat suatu gambar, saya bisa menggambarnya dengan cukup baik, namun jika saya disuruh menggambar bebas, saya kesulitan menentukan apa yang akan saya gambar. Saya sulit melakukan sesuatu yang tanpa tujuan. Saya sulit untuk mencari ide dan mengeksplorasinya. Sedangkan arsitek diharuskan untuk berpikir unik dan kreatif.
Maka mulai dari situ keinginan saya untuk menjadi arsitek mulai mundur hingga saya mantap tidak ingin menjadi arsitek. Saya ingin menjadi arsitek hanya karena saya suka kerapian dalam menggambar dan menghitung luas bangunan, tetapi saya sulit untuk menentukan model bangunan yang akan dibuat. Mungkin jika seseorang meminta saya membuat desain dengan jelas, ia menyuruh saya secara spesifik membuat yang ia mau, saya bisa. Tetapi jika ia hanya bilang bahwa ia menginginkan rumah dengan model minimalis, saya kurang bisa. Saya juga baru berpikir, bila saya ingin menjadi arsitek saya harus mempelajari struktur-struktur tanah, bebatuan dan semacamnya. Saya tidak suka itu.
Setelah menyadari semua itu, saya tidak berminat menjadi arsitek dan tidak punya cita-cita. Padahal saya sudah SMA dan sebentar lagi kuliah. Sempat saya berpikir untuk mengambil jurusan akuntansi. Tetapi setelah mendengar cerita-cerita orang tentang akuntansi, saya jadi takut. Akuntansi memerlukan ketelitian yang sangat tinggi. Saya takut saya melakukan sedikit kesalahan saja bisa fatal akibatnya. Saya pun membatalkan niat untuk mencari informasi lebih lanju tentang akuntansi.
Setelah SMA juga saya lebih suka bermain-main dan bersantai-santai dibanding harus belajar serius. Hal itu membuat saya tidak ingin masuk jurusan kuliah yang berat dan banyak berpikir. Contohnya farmasi, saya kurang suka kimia. Apalagi kedokteran, uuh saya tidak bisa banget deh. Saya orangnya tidak tahan terhadap darah dan hal-hal seperti itulah. Saya paling tidak mau deh jadi dokter. Takut salah diagnosis juga nantinya malah malpraktek lagi. Saya bukan tipe orang yang berani mengambil resiko yang besar.
Beberapa bulan kemudian saya tiba-tiba berpikir untuk kuliah di jurusan psikologi. Saya suka membaca sifat orang. Apalagi bisa membaca karakter seseorang dari gambar dan tulisan tangannya, sepertinya menyenangkan sekali. Apalagi itu tidak perlu berpikir terlalu banyak.
Sekarang saya sudah yakin ingin kuliah di jurusan psikologi. Saya juga ingin bekerja kantoran. Kedua hal itu saya gabungkan maka saya memilih untuk kerja di bagian rekruitmen.
Orang tua saya mengajukan beberapa pilihan universitas yang jurusan psikologinya bagus. Di antaranya adalah UI, Unpad, Atmajaya dan UGM. Tapi bagi saya UGM terlalu jauh, jadi saya kurang berminat. Saya ingin sekali mendapatkan UI. Tapi beberapa hari yang lalu saya baru mengetahui bahwa psikologi UI adalah jurusan IPS, yang berarti tes masuknya juga IPS, sedangkan sekarang saya SMA di jurusan IPA. Malas sekali kalau nanti kelas 3 harus mempersiapkan Ujian Nasional dan mengambil tambahan IPS. Pusing! Semoga saja putusan MA untuk meniadakan UN benar-benar terlaksana pada tahun saya nanti.
Kalau di Unpad, psikologinya jurusan IPA, kekurangannya hanya sedikit jauh dari rumah bila nantinya kuliah disana. Tapi tidak apa-apalah, sekarang kan ke Bandung hanya 2 jam dari Jakarta. Jadi dua pilihan utama saya adalah UI dan Unpad.
Labels: Universitas Pilihan
Pada saat itu saya bersekolah di SMP Al-Azhar Pusat. Saya sudah sekolah disana sejak saya masih TK. Ketika kelas 3 SMP, saya harus menentukan mau melanjutkan sekolah di SMA mana. Saya pun mendaftar di SMA Al-Azhar 01 (Alpus) dan SMA Labschool Kebayoran (Labsky). Saya mendaftar di SMA Alpus karena sekolah itu merupakan salah satu sekolah unggulan di Jakarta dan teman-teman saya banyak yang ingin meneruskan sekolah disana. Tapi saya lebih menginginkan sekolah di Labsky. Saya meliat kakak saya yang sudah lebih dulu bersekolah disana , sepertinya menyenangkan. Banyak sekali kegiatan non-akademik yang tidak ada di sekolah lain. Apalagi bila dihitung-hitung saya sudah 11 tahun sekolah di Alpus dan saya ingin mencari suasana baru.
Beberapa hari setelah pendaftaran SMA Al-Azhar 01, saya dinyatakan lulus tanpa tes. Masalahnya, batas waktu pembayaran Alpus sebelum tes Labsky dilaksanakan. Saya dan keluarga sangat bingung. Kalau Alpus dilepas, saya takut tidak diterima di Labsky. Tapi jika saya membayar Alpus, itu berarti orang tua saya harus membayar lebih. Terlebih lagi teman-teman dan guru-guru saya menyuruh saya masuk Alpus, mereka bilang saya menyia-nyiakan kesempatan karena banyak yang ingin sekali masuk Alpus tapi tidak diterima, sedangkan saya bisa diterima tanpa tes. Saya tambah bingung. Tapi saya ingin sekali masuk labsky.
Setelah perundingan yang cukup panjang akhirnya saya sudah mantap untuk masuk labsky dan orang tua saya memutuskan untuk membayar uang masuk Alpus tetapi tidak secara penuh. Pada saat saya sedang ujian praktik, saya mendapat kabar dari orang tua saya bahwa saya lulus tes masuk Labsky. Betapa senangnya saya pada saat itu.
Hari-hari pertama sekolah, rasanya saya ingin kembali ke Alpus! Itu karena saya belum begitu kenal dengan teman-teman. Dari Alpus yang masuk ke Labsky hanya 4 orang. Apalagi itu baru pertama kalinya saya merasakan menjadi ’anak baru’. Sebagian besar dari mereka telah saling mengenal karena mereka berasal dari SMP Labsky. Sedikit menyesal dulu saya bersikeras ingin masuk Labsky. Ditambah lagi nama saya sudah terdaftar di salah satu kelas di Alpus, hal itu tambah membuat saya ingin kembali kesana. Tapi jika saya pikirkan kembali, sayang sekali uang yang sudah dibayarkan di Labsky secara penuh melayang begitu saja. Maka yang bisa saya lakukan hanya bersabar dan berpikir bahwa itu baru permulaan.
Ketika MOS di Labsky, dibagi beberapa kelompok yang membantu kita untuk bersosialisasi dengan teman baru. Saya pun mulai berkenalan dengan teman-teman sekelompok dan kelompok-kelompok lain. Selama MOS berlangsung, kami juga didampingi kakak-kakak OSIS. Merekalah yang membuat MOS lebih berwarna. Bila kegiatan sedang berlangsung, kadang mereka suka iseng memanggil-manggil nama kami dengan panggilan yang konyol. Tapi menurut saya, kalau tidak ada seperti itu justru kegiatan MOS akan membosankan. Lalu ketika makan, di Labsky ada cara makan yang disebut dengan ’makan komando’, yaitu kita harus menghabiskan bekal yang kita bawa dalam beberapa hitungan saja. Hal itu melatih kita untuk bergerak cepat dalam situasi tertentu.
Pada saat MOS kita juga diajari cara baris-berbaris (PBB). Saat PBB berlangsung, kita harus serius mendengarkan petunjuk dari kakak-kakak OSIS agar tidak salah, karena kalau salah, kita akan diberi hukuman. Tapi ternyata tidak mudah untuk berkonsentrasi karena beberapa kakak OSIS mengganggu kita dengan lelucon-lelucon yang sangat lucu. Tentunya kita tidak boleh tertawa. Ditambah dengan teriknya sinar matahari di lapangan, membuat kita ingin cepat-cepat selesai.
Setelah MOS selesai, ada pembagian kelas. Teman-teman MOS saya masuk di satu kelas yang sama, pada saat itu saya iri. Saya masuk di kelas XC. Untungnya, di kelas itu ada teman SD saya, jadi setidaknya sudah ada orang yang saya kenal. Ternyata anak-anaknya disana ramah-ramah sekali. Mereka tidak segan untuk menghampiri kita duluan mengajak berkenalan.
Di kelas, guru juga sering mengadakan tugas kelompok yang membuat kita bisa lebih akrab dengan teman-teman sekelas. Setelah saya berada di kelas itu selama beberapa lama, saya menyadari bahwa XC adalah salah satu kelas yang terbaik menurut saya. Beruntungnya saya ada di kelas itu. Anak-anaknya juga sangat kompak.
Beberapa bulan setelah masuk, ada kegiatan yang dinamakan Trip Observasi (TO). Pada kegiatan itu, anak-anak kelas 10 akan menginap di sebuah desa selama 5 hari untuk melakukan penilitian tertentu. Lagi-lagi dalam kegiatan itu dibagi kelompok. Dan saya mendapatkan kelompok yang teman-temannya baik dan mudah diajak bekerjasama.
Sebelum TO, ada kegiatan yang dinamakan pra-TO. Pada kegiatan itu, kita harus membuat nametag dan tongkat – yang susahnya minta ampun – untuk dipakai pada saat TO. Pokoknya semua yang diperlukan pada saat TO kita siapkan pada saat pra-TO.
Waktu pra-TO menjadi kenangan tersendiri bagi saya. Bagaimana stressnya mengerjakan nametag hingga larut malam, belum lagi potongan-potongan dari nametag tersebut yang tercecer karena lokasi pengerjaannya berpindah-pindah. Mengerjakan nametag dan tongkat itu tidak cukup hanya sehari. Dibutuhkan kerjasama yang baik antaranggota. Ada satu kelompok yang nametagnya sudah jadi dengan cepat, namun nametagnya hilang. Saya berpikir bagaimana rasa kesalnya mereka, sudah membuat dengan susah payah, lalu hilang begitu saja. Pada akhir pra-TO juga dipilih ketua angkatan yang gunanya untuk menyatukan angkatan dan memudahkan untuk mengoordinir angkatan bila ada suatu hal.
TO angkatan saya dilaksanakan di desa Pasir Muncang di Purwakarta. Disana kita tinggal di rumah-rumah penduduk. Jadi nanti akan ada orang tua asuh yang merupakan pemilik rumah yang kita tempati selama disana. Tapi kita harus memasak sendiri makanan kita, bukan orang tua asuh yang akan memasak untuk kita. Kehadiran kita disana jangan sampain merepotkan mereka. Kita juga membantu orang tua asuh bekerja. Misalnya orang tua asuh kita adalah seorang petani, maka kita juga membantunya bekerja di sawah.
Tapi bukan itu inti dari kegiatan Trip Observasi. Sesuai dengan nama kegitannnya, disana kita melakukan observasi sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Lalu dalam TO ada juga kegiatan yang dinamakan Lintas Budaya, yaitu kita memresentasikan tentang suatu daerah, kebudayaannya, adat istiadatnya dan lain-lain dengan memakai baju daerah tersebut. Para penduduk juga bisa ikut menonton dengan bebas. Lalu juga ada kegiatan bakti sosial yang melibatkan murid, orang tua murid, guru-guru serta penduduk setempat.
Puncak kegiatan ini adalah di hari ke empat. Pada hari itu ada kegiatan yang dinamakan Penjelajahan. Dalam kegiatan itu, kita akan berjalan menyusuri hutan, sungai, air terjun, kebun teh dan lain-lain secara berkelompok sesuai dengan kelompok TO kita. Jarak yang ditempuh sekitar 20 km kita lalui dari pagi hingga sore. Memang sangat melelahkan, tapi itu sangat menyenangkan. Lebih banyak menyenangkannya daripada capeknya. Rugi sekali bila TO tapi tidak ikut penjelajahan. Kapan lagi kita melakukan kegiatan seperti itu?
Setelah 5 hari berada disana, akhirnya kami kembali ke Jakarta. Senang sekali rasanya bisa kembali ke rumah dan bersantai-santai. Tapi bukan berarti disana tidak menyenangkan loh. Ya, sudah beberapa kegiatan kita lalui di Labsky. Sampai beberapa bulan kemudian, kami bisa bersantai karena tidak ada kegiatan-kegiatan seperti itu lagi.
Sampai pada suatu bulan, ada kegiatan bernama Lapinsi yaitu Latihan Kepemimpinan Siswa. Acara itu tidak wajib diikuti seluruh murid kelas sepuluh. Kegiatan itu ditujukan kepada mereka yang ingin menjadi pengurus OSIS. Saya juga mengikuti kegiatan itu. Selama beberapa hari di Lapinsi, kami diajari berbagai macam materi tentang organisasi untuk bekal bila nantinya terpilih menjadi pengurus OSIS.
Tapi yang ikut kegiatan Lapinsi tidak langsung menjadi pengurus OSIS, masih ada tahap yang dinamakan TPO atau Tes Potensi Organisasi. Dalam TPO, ada 3 macam tes. Yang pertama adalah tes fisik atau olah raga. Yang kedua adalah tes kerohanian dan yang terakhir adalah tes presentasi makalah. Saya ragu untuk ikut TPO. Malas sekali rasanya harus membuat makalah hanya dalam waktu 1 minggu. Namun teman-teman saya mendukung saya untuk ikut TPO. Untungnya sewaktu SMP saya disuruh membuat karya tulis jadi saya tidak terlalu sulit mengerjakan makalah tersebut karena sudah tahu cara membuat makalah yang baik. Akhirnya pun saya mengikuti TPO. Hasilnya baru akan diumumkan setelah liburan sekolah. Lama sekali.
Pada bulan Juni, ketika sekolah lain sudah libur, sekolah kami belum. Ada kegiatan bernama Bintama (Bina Mental apalah namanya saya lupa) yang mengambil lokasi di Batu Jajar dan Situ Lembang, Bandung. Disana kita dilatih untuk menjadi disiplin dan mandiri oleh pelatih-pelatih Kopassus. Menurut saya kegiatannya menyenangkan, tetapi kadang merepotkan dan bikin kesal. Contohnya, dengan udara disana yang sangat dingin, kita disuruh masuk ke dalam air (yang juga sangat dingin) berkali-kali. Setelah itu esok harinya kita memakai baju yang basah itu. Betapa dingin rasanya. Makanpun juga makan komando, jadi kita harus cepat-cepat menghabiskan makanannya tanpa suara. Padahal wadah makannya terbuat dari besi (atau alumunium?) yang jika bertemu dengan sendok suaranya berisik. Tapi saya berpikir positif, itu semua melatih kita untuk selalu bergerak cepat di saat-saat yang memang mengharuskan kita untuk bergerak cepat. Di acara itu juga ada api unggun dan caraka malam, yaitu seperti jurit malam.
Selesai Bintama, seluruh murid kelas X merasa sangat lega karena sudah melewati semua kegiatan-kegiatan wajib Labsky. Ketika liburan, hasil TPO sudah keluar. Ternyata saya dinyatakan lulus menjadi calon pengurus OSIS. Pada tanggal 17 Agustus 2009, para calon pengurus OSIS dilantik menjadi pengurus OSIS. Pada waktu subuh hingga pagi hari, kami semua bersama-sama berlari dari kalibata menuju Labsky. Capek yang terasa tidak sebanding dengan rasa senang kami. Begitu sampai sekolah rasanya senaaaang sekali telah berhasil lari sejauh 17 kilometer. Saya tidak menyangka saya akan kuat berlari sejauh itu. Setelah beristirahat sejenak, kamipun dilantik sebagai pengurus OSIS.
Sekolah di Labsky memberi saya banyak pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah-sekolah lain. Saya sangat senang dan tidak menyesal bersekolah disini.
Labels: Bintama, Labschool Kebayoran, Labsky, Trip Observasi
Papaku adalah salah satu lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun ’87 jurusan Mekanisasi Pertanian. Pada saat itu beliau belum memiliki cita-cita ingin menjadi apa. Setelah lulus, ia baru memiliki cita-cita, yaitu ingin bekerja di IBM.
Ia melamar pekerjaan ke 40 perusahaan termasuk IBM dan ia diterima di 8 perusahaan. Tetapi ternyata IBM tidak menerima pegawai baru. Maka dari 8 perusahaan tersebut, ia memilih United Tractors (UT) yang bekerja mengenai alat-alat berat seperti traktror dan buldozer. Selama setahun ia beserta pegawai baru lainnya menjadi management trainee. Mereka diajari berbagai macam hal di perusahaan itu. Papaku ditempatkan di bagian sparepart division (suku cadang) mengurusi inventori. Ketika sedang menjalani itu, papaku mendapat berita bahwa IBM membuka lowongan pekerjaan dan ia melamar disana.
Beberapa bulan kemudian ia dinyatakan lulus dan diterima di IBM. Maka ia pun pindah dari UT ke IBM tahun 1988. Jadi ia bekerja di UT hanya selama satu tahun. Di IBM juga ada management trainee seperti di UT selama satu tahun di bagian sales and marketing. Setelah setahun itu ia ditempatkan di sales & marketing di industri manufacture sebagai engineer (menangani perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik elektronik) selama dua tahun. Tahun 1991 ia ditawari sebagai marketing di sales engineer. Ia pun menerimanya dan bekerja hingga tahun 1992. Setelah itu, pada tahun 1992-1994 ia menjadi marketing untuk instansi pemerintah yang menangani departemen, BUMN, dan lain-lain.
Pada tahun 1994 IBM seluruh dunia guncang dan mengalami masalah besar. Terjadi PHK ribuan pegawai dan papaku pun memilih untuk keluar. Maka ia pindah ke Bank Bali. Ia bekerja di bagian retail banking menangani micro marketing. Pekerjaannya mempromosikan produk-produk retail banking dengan membuat acara-acara, pameran, iklan, presentasi, lomba, pendekatan ke perusahaan, sekolah, dan masyarakat, dan lain-lain. Pokoknya ia mempromosikan produk tersebut.
Pada tahun 1996 ia ditawari kembali bekerja di IBM. Pada saat itu IBM sudah kembali normal. Maka ia pun menerimanya. Ia menjadi marketing industri telekomunikasi. Pada tahun 1999 hingga 2002 ia ditugaskan masuk ke organisasi IBM regional Asia Tenggara menangani operasi regional untuk industri telekomunikasi IBM Asia Tenggara + India. Pekerjaannya mengoordinasi IBM bagian telekomunikasi di tiap-tiap negara tersebut agar bekerja dengan baik untuk bisa dijual. Tahun 2002 ia diminta kembali ke IBM Indonesia menangani product management.
Pada tahun 2004, papaku memilih untuk pensiun dini. Saat itu umur papaku baru 39 tahun. Lalu apa yang papa kerjakan setelah pensiun dini? Ketika papa masih bekerja di Bank Bali, akhir tahun 1995 papa mulai set up membangun usaha pribadi di bidang industri retail distribusi. Di perjalanan retail tersebut dibangun, ia mendapatkan pengetahuan dan pengalaman sehingga ia bisa melakukan konsultasi. Ia menjadi konsultan untuk orang-orang yang ingin memulai usaha pribadi. Yang ia lakukan adalah pembimbingan dan pendampingan kepada orang-orang atau keluarga-keluarga yang ingin memulai usaha pribadi mereka.
Usaha itu berkembang hingga release IBM papa langsung meneruskan dan menekuni bidang konsultan usaha pribadi tersebut. Ia memberikan bimbingan kepada mereka. Di perjalanannya, papa bisa menjadi pembicara motivsai, seringkali ia diundang menjadi pembicara di berbagai macam seminar.
Ia juga masuk ke dunia industri kesehatan. Selanjutnya papa melakukan pembimbingan dan pendampingan untuk orang-orang khusus di industri kesehatan. Ia memilih bidang kesehatan karena ternyata di dunia ada 6 perkembangan tren yang sangat luar biasa dan tidak akan pernah mati, yaitu industri kesehatan, teknologi telekomunikasi, keuangan, retail, makanan, dan pendidikan. Papa melakukan pembimbingan dan pendampingan untuk orang-orang di usaha mikro bidang kesehatan dengan menggunakan metode personal franchise. Hingga kini, itulah pekerjaan dia.
Keputusan papa untuk berhenti kerja memang tepat, karena waktu ia untuk bersama keluarga menjadi lebih banyak. Ia bisa memantau kegiatan anak-anaknya, sehingga kita bisa memiliki waktu yang lebih untuk melakukan sharing. Papa juga sering bercerita tentang dunia pekerjaan, mengajarkan kami bagaimana membangun hubungan yang baik dengan orang, membicarakan masa depan kami yang membuat mata kami lebih terbuka pada lingkungan sekitar. Papa bilang lebih cepat diajari lebih baik untuk ke depannya. Dulu papa tidak mendapatkan hal-hal seperti itu sewaktu muda. Ia merasa ’terlambat’ mempelajarinya sehingga mengalami kesulitan beradaptasi dengan dunia pekerjaan. Maka ia tidak ingin kami mengalami hal seperti itu. Ia sering memberi kami buku-buku referensi yang bagus untuk dipelajari. Papa juga memilki banyak sekali teman dari berbagai macam kalangan karena pekerjaan-pekerjaannya itu.
Labels: IBM, konsultan kesehatan, personal franchise

Resensi Novel
Judul Buku : Autumn in Paris
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 265 halaman
Harga : Rp 38.500
Paris Kota Cinta
Autumn in Paris merupakan karya kedua dari Ilana Tan, yang sebelumnya telah menulis novel berjudul Summer in Seoul. Meskipun terlihat mirip, tapi cerita dari kedua novel ini tidak saling berkelanjutan.
Novel ini bercerita tentang kisah percintaan antara Tara Dupont, seorang penyiar radio di Paris, dan Tatsuya Fujisawa, seorang arsitek dari Jepang. Mereka bertemu di Paris saat Tatsuya datang kesana untuk urusan pekerjaan. Tatsuya merupakan teman dari Sebastian, yakni sahabat Tara Dupont. Sebastianlah yang memperkenalkan mereka berdua.
Setelah diperkenalkan oleh Sebastian, beberapa hari kemudian Tara dan Tatsuya bertemu secara kebetulan. Mereka pun jalan-jalan bersama. Hari-hari berikutnya mereka sering bertemu tanpa sepengetahuan Sebastian. Maka timbullah perasaan cinta di antara mereka.
Perasaan itu pun semakin dalam setelah mereka mengenal satu sama lain. Juga karena seringnya mereka bertemu dan mereka memiliki banyak kecocokan.
Selain datang untuk urusan pekerjaan, Tatsuya juga sering datang ke Paris untuk mencari seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Sudah bertahun-tahun ia mencari orang itu namun ia belum menemukannya. Ibunya sudah memberikan nomor telepon orang tersebut kepadanya, namun ia belum berani untuk menghubungi orang itu.
Sampai suatu saat ia memberanikan diri menelpon orang tersebut dan mengajaknya bertemu. Ketika mereka bertemu, Tatsuya menjelaskan bahwa ia adalah anak kandung lelaki tersebut. Ibunya bertemu lelaki itu di Jepang ketika lelaki itu datang ke Jepang untuk berlibur dan ia jatuh cinta pada ibu Tatsuya. Namun ketika liburan berakhir, ia kembali ke Paris dan meninggalkan ibu Tatsuya – yang ternyata sedang hamil – tanpa kabar. Setelah mendengar penjelasan itu, lelaki itu meminta maaf karena ia tidak tahu hal itu sama sekali dan ia menerima Tatsuya sebagai anak. Betapa lega hati Tatsuya setelah mengatakan hal yang selama ini ia takutkan. Ia takut bahwa ayah kandungnya tidak menerimanya sebagai anak.
Beberapa hari kemudian Tara mengajak Tatsuya ke pesta di sebuah bar milik ayahnya bersama teman-temannya. Dengan senang Tatsuya pun menerima ajakan tersebut. Ketika sedang asyik berpesta, datanglah ayah Tara. Betapa terkejutnya Tatsuya setelah ia melihat ayah Tara. Ayah Tara adalah ayahnya. Pria yang selama bertahun-tahun ia cari.
Keunggulan novel ini adalah ceritanya yang dapat membuat kita terhanyut di dalamnya, sehingga kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh utama. Bahasa yang digunakan seperti bahasa terjemahan. Karena latar novel ini adalah di Paris, maka di dalam novel ini terdapat beberapa kata dari bahasa Prancis beserta artinya. Penokohannya bersifat dramatis, yaitu melalui cerita-cerita yang ada di dalamnya, bukan dijelaskan secara langsung. Cover dan cerita novel ini bagus. Biasanya cover tidak menggambarkan isi novel. Misalnya covernya bagus tetapi isinya tidak, begitu juga sebaliknya.
Labels: Resensi Novel - Autumn in Paris